{"id":1054,"date":"2026-06-21T00:56:14","date_gmt":"2026-06-21T00:56:14","guid":{"rendered":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/?p=1054"},"modified":"2026-06-21T00:58:38","modified_gmt":"2026-06-21T00:58:38","slug":"ngopi-bada-magrib-bersama-jamaah-obrolan-piala-dunia-yang-berujung-nasihat-akhirat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/?p=1054","title":{"rendered":"Ngopi Ba\u2019da Magrib Bersama Jamaah: Obrolan Piala Dunia yang Berujung Nasihat Akhirat"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-21-at-07.41.27-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1055\" srcset=\"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-21-at-07.41.27-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-21-at-07.41.27-300x200.jpeg 300w, https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-21-at-07.41.27-768x512.jpeg 768w, https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-21-at-07.41.27-1536x1024.jpeg 1536w, https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-21-at-07.41.27.jpeg 1599w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sela-sela ba\u2019da shalat Magrib sembari menunggu masuk waktu Isya, saya sebagai marbot masjid kembali diajak untuk ngopi di teras rumah Pak Pramono, salah seorang jamaah Masjid Al Ihsan Suryodiningratan. Namun, saya memilih minum susu, sedangkan Pak Pram memilih teh. Kami pun sama-sama tertawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat duduk bersama, ada hal menarik dalam setiap obrolan. Topik yang dibahas selalu mengandung hikmah dan pelajaran hidup yang bermanfaat serta maslahat. Ketika pembicaraan mengarah pada Piala Dunia yang saat ini mulai digandrungi para pecinta sepak bola, saya melontarkan pertanyaan sebagai bahan obrolan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPak Pram suka nonton bola? Ini sekarang lagi demam-demamnya Piala Dunia. Panjenengan juga demam bola tidak?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Pram spontan menjawab, \u201cTidak. Saya tidak suka, kecuali nanti saat final.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya pun menjawab yang sama, bahwa saya lebih suka menonton mulai babak semifinal, bukan dari awal turnamen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Pram kemudian mencetuskan cerita masa lampau. Dahulu beliau suka menonton pertandingan sambil membuat taruhan kecil-kecilan. Misalnya, yang kalah harus mentraktir makan di warung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemudian saya bertanya, \u201cItu termasuk judi tidak, Pak Pram?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cYa sekadar seru-seruan dan menambah semangat keakraban antar teman,\u201d jawab Pak Pram dengan nada santai sembari sedikit menyeruput tehnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cYa, itu sudah termasuk mendekati karena sekadar hiburan,\u201d jawab Pak Pram.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemudian saya menanggapi dengan menyampaikan dalil Al-Qur\u2019an Surat Al-Maidah ayat 90:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u064a\u0670\u0653\u0627\u064e\u064a\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u0627\u0670\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0652\u0653\u0627 \u0627\u0650\u0646\u064e\u0651\u0645\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u062e\u064e\u0645\u0652\u0631\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u064a\u0652\u0633\u0650\u0631\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0627\u064e\u0646\u0652\u0635\u064e\u0627\u0628\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0627\u064e\u0632\u0652\u0644\u064e\u0627\u0645\u064f \u0631\u0650\u062c\u0652\u0633\u064c \u0645\u0650\u0651\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0645\u064e\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0634\u064e\u0651\u064a\u0652\u0637\u0670\u0646\u0650 \u0641\u064e\u0627\u062c\u0652\u062a\u064e\u0646\u0650\u0628\u064f\u0648\u0652\u0647\u064f \u0644\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0651\u0643\u064f\u0645\u0652 \u062a\u064f\u0641\u0652\u0644\u0650\u062d\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u06dd\u0669\u0660<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Y\u0101 ayyuhalladz\u012bna \u0101man\u016b innamal-khamru wal-maisiru wal-ansh\u0101bu wal-azl\u0101mu rijsum min \u2018amalisy-syaith\u0101ni fajtanib\u016bhu la\u2018allakum tuflih\u016bn.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cWahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.\u201d (QS. Al-Maidah: 90)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di ayat tersebut dijelaskan bahwa berjudi termasuk perbuatan setan yang sangat keji, sehingga kita diperintahkan untuk menjauhinya agar memperoleh keberuntungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya kemudian menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut digunakan kata \u0641\u064e\u0627\u062c\u0652\u062a\u064e\u0646\u0650\u0628\u064f\u0648\u0652\u0647\u064f (fajtanib\u016bhu), yang berarti maka jauhilah. Bukan sekadar tidak melakukannya, tetapi juga tidak mendekati hal-hal yang dapat mengarah kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena jika sudah mulai penasaran, rasa penasaran itu akan terus berlanjut. Dari awal Piala Dunia hingga final, bahkan setelah Piala Dunia berakhir masih ada turnamen-turnamen lainnya yang dapat membuat seseorang terus terikat pada kebiasaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau kita ingin beruntung, maka jauhilah, bukan mendekati. Itu adalah perintah langsung dari Allah SWT.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya kemudian menambahkan sebuah kisah nyata yang pernah saya dengar secara langsung saat memberikan bimbingan keagamaan kepada warga binaan pemasyarakatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah seorang warga binaan bercerita dengan penuh penyesalan tentang masa lalunya yang terjerumus dalam perjudian. Awalnya ia hanya mencoba-coba dan menganggap judi sebagai hiburan. Namun lama-kelamaan perjudian menjadi candu yang sulit dihentikan. Kekalahan demi kekalahan membuatnya terlilit hutang dalam jumlah besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan mata berkaca-kaca ia mengatakan bahwa hampir seluruh harta bendanya habis terjual untuk menutupi kekalahan judi. Barang-barang berharga yang selama bertahun-tahun dikumpulkan satu per satu akhirnya lenyap. Bahkan ketika hutang semakin menumpuk dan para penagih terus datang, ia kehilangan akal sehat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam keadaan terdesak, ia nekat mencuri sepeda motor untuk membayar hutangnya. Tindakan itulah yang kemudian mengantarkannya ke balik jeruji besi. Dengan nada penuh sesal ia berkata bahwa semua musibah itu berawal dari sesuatu yang dulu dianggap sepele dan hanya untuk mencari kesenangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kisah tersebut menjadi pelajaran berharga bagi saya. Tidak sedikit orang yang terjatuh bukan karena langsung melakukan dosa besar, tetapi karena berani mendekati pintu-pintunya. Karena itulah Allah SWT tidak hanya melarang berjudi, tetapi memerintahkan agar kita menjauhinya. Sebab ketika seseorang sudah masuk dalam lingkaran perjudian, sering kali yang dipertaruhkan bukan hanya uang, melainkan juga keluarga, kehormatan, masa depan, bahkan kebebasannya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Pram kemudian menjawab, \u201cYa, itu masa kelam dulu. Kalau sekarang ya untuk apa? Sekarang saya lebih fokus mengejar akhirat. Hal-hal seperti Piala Dunia dan permainan bola itu bisa membuat kita jauh dari akhirat. Sekarang saya bekerja pun hanya menunggu waktu shalat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMasya Allah,\u201d jawab saya sambil menyeruput susu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cContohnya kita ini,\u201d lanjut Pak Pram, \u201cobrolannya semua tentang akhirat dan hal-hal yang bermanfaat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tak lama kemudian, alarm pengingat lima menit sebelum waktu shalat Isya berbunyi. Saya pun berpamitan untuk kembali ke masjid, mempersiapkan diri berwudhu, menyalakan AC, dan mengumandangkan adzan sebagai bagian dari tugas saya sebagai marbot masjid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga setiap obrolan yang kita lakukan senantiasa menghadirkan hikmah, menambah keimanan, serta mengingatkan kita untuk lebih fokus mempersiapkan bekal menuju akhirat. Aamiin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis<br>Fatkur Rohman, M.Pd I<br>Penyuluh Agama Islam<br>KUA Mantrijeron<br>Kementerian Agama Kota Yogyakarta<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di sela-sela ba\u2019da shalat Magrib sembari menunggu masuk waktu Isya, saya sebagai marbot masjid kembali diajak untuk ngopi di teras<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1055,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1054","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1054","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1054"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1054\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1057,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1054\/revisions\/1057"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1055"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1054"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1054"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1054"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}