{"id":156,"date":"2026-02-25T02:13:22","date_gmt":"2026-02-25T02:13:22","guid":{"rendered":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/?p=156"},"modified":"2026-02-27T07:06:01","modified_gmt":"2026-02-27T07:06:01","slug":"sekolah-kehidupan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/?p=156","title":{"rendered":"Sekolah Kehidupan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Oleh: Dr. Didi Junaedi, M.A.<br>(Dosen Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Kehidupan ini ibarat sebuah sekolah, kita semua (umat manusia) \u200eadalah muridnya. Allah Swt. adalah Sang Mahagurunya. Fenomena alam serta \u200eseluruh peristiwa yang terjadi di muka bumi ini adalah pelajarannya. \u200eKesuksesan dan kegagalan, anugerah dan musibah, nikmat dan bencana \u200eadalah ujiannya. Tanda kelulusan atau ijazahnya adalah kearifan sikap, \u200ekesantunan perilaku serta kemuliaan akhlak yang melekat dalam diri \u200eseseorang, setelah melalui serangkaian pelajaran serta ujian kehidupan \u200etersebut.\u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Berbeda halnya dengan sekolah formal yang dibatasi oleh ruang dan \u200ewaktu pembelajaran. Sekolah kehidupan tidak dibatasi oleh sekat ruang dan \u200ewaktu. Proses pembelajaran berlangsung setiap saat, setiap waktu. Hari demi \u200ehari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun, proses pembelajaran terus \u200emenerus berlangsung. Tidak ada istilah libur dalam sekolah kehidupan. \u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Pelajaran yang diberikan Sang Mahaguru pun beragam, sesuai dengan \u200etingkat kualitas diri masing-masing pribadi. Setiap pelajaran yang diberikan \u200eselalu mengandung pesan tersembunyi yang hendak disampaikan oleh Sang \u200eMahaguru. Sayangnya, tidak setiap murid (baca: manusia) memahami maksud \u200eSang Mahaguru. Ada murid yang memang berusaha keras dengan penuh \u200ekesabaran untuk memahami pesan Sang Mahaguru, dan akhirnya berhasil \u200emendapatkan pesan tersembunyi (baca: hikmah) dari pelajaran yang \u200editerimanya. Ada juga murid yang tidak mau bersusah payah untuk mencoba \u200ememahaminya. Walhasil, alih-alih mendapatkan maksud atau inti dari \u200epelajaran yang diterimanya, justru dia semakin kebingungan, bahkan putus \u200easa dengan pelajaran yang diberikan oleh Sang Mahaguru.\u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Life is never flat. Hidup ini tak pernah datar, demikian sebuah \u200eungkapan menyebutkan. Hidup penuh liku-liku.. ada suka ada duka.. semua \u200einsan pasti pernah merasakannya\u2026 demikian kata Camelia Malik dalam salah \u200esatu syair lagunya. Ya, hidup ini memang penuh liku, berkelok-kelok, \u200emenanjak-menurun, kadang terjal, sesekali lempang, kali lain licin.\u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Warna-warni jalan kehidupan inilah yang justru menjadikan hidup ini \u200edinamis, penuh tantangan dan mengasyikkan. Gairah hidup akan terus \u200emembara ketika setiap saat, setiap waktu, kita dihadapkan pada pengalaman-\u200epengalaman baru. Semangat hidup akan terus menyala, ketika setiap detik \u200eyang kita lalui dilingkupi oleh serangkaian peristiwa yang menjadikan kita \u200elebih dewasa. \u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Hidup justru akan terasa membosankan jika tidak ada tantangan, \u200emonoton, tidak ada hal-hal baru yang hadir dalam kehidupan kita. Gairah \u200ehidup akan meredup ketika hari demi hari kita lewati dengan rutinitas tanpa \u200ekreativitas. Semangat hidup akan memudar ketika waktu demi waktu kita lalui \u200edengan hambar, karena tidak ada hal-hal besar yang kita lakukan.\u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Sekolah kehidupan mengajarkan kepada kita tentang banyak hal. Dari \u200ehal-hal yang remeh-temeh, hingga yang bikin kening berkerut. Tetapi, satu \u200eyang pasti bahwa setiap pelajaran yang kita dapatkan dalam sekolah \u200ekehidupan ini akan sangat berharga bagi perjalanan hidup kita selanjutnya di \u200emasa yang akan datang.\u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Di dalam sekolah kehidupan, kita bisa belajar dari seluruh makhluk \u200eciptaan Allah yang ada di muka bumi ini. Kita bisa belajar dari sesama \u200emanusia. Bahkan belajar dari diri kita sendiri. Belajar dari kesuksesan orang \u200elain, misalnya, atau belajar dari kegagalan yang pernah kita alami. Kita juga \u200ebisa belajar dari tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan dari benda-benda mati \u200eseperti batu, kayu, pasir, tanah dan yang lainnya.\u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Seluruh yang ada di jagat raya ini adalah pelajaran yang sangat \u200eberharga bagi kita. Setiap peristiwa yang kita saksikan, alami dan rasakan \u200eadalah pelajaran penting yang akan semakin memperkaya pengalaman hidup, \u200esekaligus meningkatkan kualitas diri kita.\u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Selalu ada hikmah yang tersembunyi di balik setiap peristiwa dan \u200ekejadian yang ada di muka bumi ini. Selalu ada pesan yang hendak \u200edisampaikan oleh Sang Mahaguru dalam setiap pengalaman hidup yang kita \u200ejumpai. Baik itu pengalaman yang menyenangkan ataupun yang \u200emenyedihkan. Baik yang membuat kita tersenyum atau menjadikan kita \u200emenangis. Baik yang mengguratkan kenangan manis, ataupun yang \u200emenyisakan kenangan pahit. Kesemua peristiwa dan kejadian yang kita alami \u200edan saksikan itu pasti mengandung pelajaran berharga, pesan penting serta \u200ehikmah yang agung.\u200e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*Ruang Inspirasi, Rabu, 25 Februari 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Didi Junaedi, M.A.(Dosen Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon) Kehidupan ini ibarat sebuah sekolah,<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":291,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-156","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/156","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=156"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/156\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":509,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/156\/revisions\/509"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=156"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=156"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjid-alihsan.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=156"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}