Ada “Pasar” di Surga? Kultum Tarawih Ustadz Roihan Yahya Membuka Rahasianya

Kultum Tarawih: “Di Manakah Surga Itu?”
Masjid Al Ihsan Suryodiningratan, Mantrijeron – Ramadhan 1447 H
Penceramah: Ustadz Roihan Yahya, S.Si
Suasana malam Ramadhan di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan terasa hangat dan penuh kekhusyukan. Setelah jamaah menunaikan shalat Isya, Ustadz Roihan Yahya, S.Si menyampaikan kultum yang menggugah hati tentang tujuan akhir kehidupan seorang mukmin: surga.
Beliau mengawali dengan mengingatkan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melatih keikhlasan dan kesungguhan dalam beribadah. Puasa, shalat, sedekah, dan amal lainnya tidak hanya dilakukan sebagai rutinitas, tetapi harus disertai niat yang tulus karena Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi kesempatan memperbaiki hati agar semakin dekat dengan Allah.
Pertanyaan Menggugah: “Surganya Teng Pundi?”
Dalam bahasa Jawa yang sederhana namun penuh makna, Ustadz Roihan bertanya kepada jamaah:
“Kira-kira surganya teng pundi? Di manakah surga itu?”
Pertanyaan ini membuat jamaah merenung. Semua orang tentu berharap masuk surga di akhirat. Namun beliau mengajak jamaah memahami bahwa surga memiliki kenikmatan yang luar biasa yang bahkan belum pernah terbayangkan oleh manusia.
Allah berfirman:
وَلَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
“Di dalamnya mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahan (kenikmatan).”
(QS. Qaf: 35)
Ayat ini menunjukkan bahwa kenikmatan surga tidak terbatas. Apa pun yang diinginkan manusia tersedia, bahkan ada kenikmatan yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan.
Gambaran Surga: Ada “Pasar” yang Indah
Ustadz Roihan kemudian menyampaikan sebuah hadis menarik tentang kehidupan di surga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya di surga ada sebuah pasar yang mereka datangi setiap hari Jumat. Lalu bertiuplah angin dari arah utara yang menerpa wajah dan pakaian mereka sehingga menambah keindahan mereka. Ketika mereka kembali kepada keluarga mereka, keluarga mereka berkata: ‘Demi Allah, kalian semakin tampan dan semakin indah.’ Mereka pun menjawab: ‘Kalian juga semakin indah setelah kami pergi.’”
(HR. Muslim)
Menurut penjelasan para ulama seperti Imam Nawawi, pasar di surga bukan tempat jual beli seperti di dunia, tetapi tempat berkumpulnya para penghuni surga untuk saling bertemu, berbincang, bersenda gurau, dan menikmati kebahagiaan bersama.
Seakan-akan seperti tempat rekreasi atau “mall”, tetapi tanpa transaksi, tanpa kelelahan, tanpa kesedihan. Semuanya gratis dan penuh kebahagiaan.
Dalam kitab Hadi Al-Arwah ila Bilad Al-Afrah (Tamasya di Surga), Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa kenikmatan surga begitu luas sehingga akal manusia sulit membayangkannya secara sempurna.
Surga adalah Tempat Reuni Kebahagiaan
Di pasar surga itu, para penghuni surga akan:
Berkumpul dan saling menyapa
Mengenang kehidupan dunia
Bercanda dan berbagi cerita
Menikmati keindahan yang terus bertambah
Bahkan disebutkan bahwa tingkatan tempat duduk mereka sesuai dengan derajat amal mereka di dunia. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin dekat pula kedudukannya dengan kenikmatan tersebut.
Kisah para sahabat seperti Thalhah bin Ubaidillah sering dijadikan teladan tentang bagaimana mereka beramal dengan sungguh-sungguh demi meraih kedudukan tinggi di sisi Allah.
Masjid Dicintai Allah, Pasar Dibenci
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Roihan juga mengingatkan sebuah hadis Rasulullah ﷺ:
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.”
(HR. Muslim)
Karena masjid adalah tempat manusia mengingat Allah, sedangkan pasar sering menjadi tempat manusia sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan-Nya.
Namun Rasulullah ﷺ tetap mengajarkan adab ketika masuk pasar, yaitu membaca doa:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya:
“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Hidup dan tidak akan mati. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang membaca doa ini ketika masuk pasar akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah.
Ramadhan: Latihan Menuju Surga
Kultum ditutup dengan pesan bahwa Ramadhan adalah madrasah keikhlasan. Orang yang mampu menjaga ibadahnya dengan sungguh-sungguh di bulan ini, insyaAllah akan lebih mudah menjaga amalnya di bulan-bulan setelahnya.
Jika di dunia kita rela datang ke mall untuk mencari kesenangan sementara, maka mengapa tidak bersungguh-sungguh mengejar “pasar surga” yang kenikmatannya abadi?
Semoga Ramadhan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki niat, memperbanyak amal, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga kelak Allah mempertemukan kita di surga-Nya. Aamiin.

