Ketika Sinta Memilih Sekolah: Pesan Dakwah dari Kisah Rama, Sinta, dan Rahwana
Suryodiningratan, Yogyakarta — Ada yang menarik dalam kisah pewayangan Rama, Sinta, dan Rahwana yang dibawakan oleh muda-mudi RW 09 Suryodiningratan. Bukan sekadar cerita tentang cinta, perebutan hati, dan pertarungan antara Rama dengan Rahwana, tetapi sebuah kisah yang dikemas menjadi refleksi kehidupan anak muda masa kini.
Pementasan berlangsung dengan suasana yang hidup. Dialog demi dialog membuat penonton mengikuti perjalanan Sinta yang berada di antara dua pilihan. Rama datang dengan ketulusan cintanya. Rahwana hadir dengan segala pesona dan kekuasaannya. Keduanya seolah menawarkan satu hal yang sama: cinta Sinta.
Namun, cerita justru menghadirkan kejutan pada bagian akhir.
Ketika tiba saatnya Sinta menentukan pilihan, penonton mungkin mengira ia akan memilih Rama atau justru Rahwana.
Tetapi ternyata tidak.
Dengan penuh keyakinan, Sinta menyampaikan:
“Saya tidak memilih kamu, Rama. Saya juga tidak memilih kamu, Rahwana. Aku memilih untuk fokus sekolah.”
Seketika, kalimat sederhana itu menjadi pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar akhir sebuah cerita cinta.
Sinta dan pilihan anak muda
Di tengah kehidupan anak muda yang hari ini begitu dekat dengan berbagai bentuk pergaulan, media sosial, tren, dan persoalan asmara, pilihan Sinta terasa sangat relevan.
Tidak semua persoalan kehidupan harus berakhir dengan memilih siapa yang dicintai.
Ada kalanya seseorang harus berani memilih masa depan.
Ada waktunya seorang anak muda mengatakan, “Aku ingin belajar dahulu. Aku ingin mengejar cita-cita. Aku ingin membahagiakan orang tua. Aku ingin mempersiapkan masa depanku.”
Sebab pendidikan bukan sekadar tentang mendapatkan ijazah. Pendidikan adalah proses mempersiapkan manusia agar mampu menjalani kehidupan dengan ilmu, akal sehat, tanggung jawab, dan akhlak.
Dalam perspektif Islam, menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Maka pilihan untuk belajar bukan berarti menolak cinta.
Justru bisa menjadi bentuk cinta kepada masa depan.
Rama, Rahwana, dan godaan sebuah pilihan
Kisah ini juga mengajak kita melihat bahwa manusia dalam kehidupannya selalu berhadapan dengan berbagai pilihan.
Rama dapat dibaca sebagai simbol keteguhan, kesetiaan, dan perjuangan. Sementara Rahwana dapat menjadi gambaran tentang bagaimana kekuasaan, keinginan, dan hawa nafsu dapat membawa manusia pada jalan yang keliru ketika tidak dikendalikan.
Dalam kehidupan nyata, “Rama” dan “Rahwana” tidak selalu hadir sebagai manusia.
Kadang keduanya hadir dalam bentuk pilihan hidup.
Ada yang mengajak kita menjadi lebih baik.
Ada pula yang perlahan menjauhkan kita dari cita-cita, keluarga, pendidikan, dan nilai-nilai agama.
Karena itu, seorang anak muda membutuhkan keberanian untuk berkata:
“Tidak semua yang menarik harus aku ikuti. Tidak semua yang aku sukai harus aku miliki sekarang.”
Menunda kesenangan demi masa depan adalah bentuk kedewasaan.
Dakwah melalui budaya
Apa yang dilakukan muda-mudi RW 09 Suryodiningratan menjadi contoh bahwa dakwah tidak selalu harus disampaikan melalui mimbar.
Dakwah juga dapat hadir melalui seni, budaya, cerita, dialog, dan kreativitas generasi muda.
Kisah pewayangan yang memiliki akar panjang dalam budaya masyarakat dapat menjadi ruang untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Nilai budaya dapat dibaca kembali dengan perspektif moral dan disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Di sinilah masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuhnya generasi muda yang kreatif, berbudaya, berilmu, dan berakhlak.
Masjid Al Ihsan Suryodiningratan menyambut baik kreativitas anak-anak muda yang mampu menjadikan budaya sebagai ruang perjumpaan sekaligus ruang refleksi.
Ketika cinta tidak menjadi prioritas
Ada sebuah pelajaran sederhana tetapi dalam dari dialog Sinta.
Tidak semua anak muda harus terburu-buru mencari pasangan.
Ada masa untuk belajar.
Ada masa untuk bertumbuh.
Ada masa untuk memperbaiki diri.
Ada masa untuk mempersiapkan masa depan.
Dan ketika waktunya tiba, seseorang akan lebih siap membangun keluarga dengan ilmu, kematangan, tanggung jawab, dan akhlak.
Sinta tidak memilih Rama.
Sinta juga tidak memilih Rahwana.
Sinta memilih sekolah.
Bukan karena cinta tidak penting, tetapi karena ia menyadari bahwa ada sesuatu yang harus dipersiapkan sebelum mengambil keputusan besar dalam kehidupan.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi sangat dekat dengan realitas anak muda hari ini:
“Jangan sampai sibuk mencari siapa yang akan menemani masa depan, tetapi lupa mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan.”
Dari panggung menuju kehidupan
Pada akhirnya, kisah Rama, Sinta, dan Rahwana tidak harus berhenti sebagai cerita di atas panggung.
Biarlah ia menjadi cermin.
Ketika kita menghadapi godaan, mampukah kita berkata tidak?
Ketika ada sesuatu yang menyenangkan tetapi mengganggu masa depan, beranikah kita meninggalkannya?
Ketika teman-teman sibuk mengejar popularitas, mampukah kita tetap fokus belajar?
Dan ketika cinta datang terlalu cepat, mampukah kita berkata:
“Aku belum ingin terburu-buru. Aku ingin belajar. Aku ingin bertumbuh. Aku ingin mempersiapkan diri.”
Sebab masa muda adalah kesempatan yang tidak akan kembali.
Gunakan untuk belajar.
Gunakan untuk berkarya.
Gunakan untuk berbakti kepada orang tua.
Gunakan untuk mendekat kepada Allah.
Dan gunakan untuk menjadi manusia yang kelak bukan hanya sukses dalam kehidupan, tetapi juga bermanfaat bagi sesama.
Dari Suryodiningratan, sebuah panggung budaya mengajarkan satu pesan sederhana:
Tidak semua pilihan harus tentang cinta. Kadang pilihan terbaik adalah memilih ilmu, memilih masa depan, dan memilih untuk terus bertumbuh.
