Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com
BeritaEvents

Ketoprak HUT ke-81 RI di RW 09 Suryodiningratan: Ketika Kesembuhan Mengajarkan Manusia untuk Kembali kepada Tuhan

Yogyakarta — Semarak memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 di wilayah RW 09 Suryodiningratan tidak hanya diwarnai dengan berbagai perlombaan dan kegiatan warga. Nuansa budaya Jawa turut dihidupkan melalui sebuah pertunjukan ketoprak yang menghadirkan cerita penuh humor, konflik, dan pesan moral tentang kehidupan manusia.

Di balik kelucuan para pemain dan dialog khas ketoprak, terselip sebuah pesan yang relevan dengan kehidupan: manusia boleh berusaha dengan berbagai cara, tetapi pada akhirnya kesembuhan, pertolongan, dan segala sesuatu yang terjadi berada dalam kehendak Allah SWT.

Raja Suryomakmur dan Putri yang Tak Kunjung Sembuh

Cerita bermula dari sebuah kerajaan bernama Suryomakmur. Sang raja, yang dikenal sebagai Raja Suryomakmur, memiliki seorang putri yang sedang mengalami sakit dan gangguan pada kondisi kejiwaannya.

Sebagai seorang ayah sekaligus raja, ia tentu tidak tinggal diam. Berbagai cara telah ditempuh. Tabib dipanggil, pengobatan dilakukan, berbagai usaha dicoba. Namun, sang putri tetap belum menunjukkan kesembuhan.

Kegelisahan sang raja akhirnya membuatnya mengumpulkan para patih, tumenggung, dan penasihat kerajaan.

Dalam sebuah dialog yang menggambarkan kebijaksanaan sekaligus kegelisahan seorang pemimpin, mereka kemudian menyepakati sebuah sayembara.

“Barang siapa mampu menyembuhkan sang putri, akan mendapatkan hadiah separuh kerajaan.”

Pengumuman pun disebarluaskan ke seluruh penjuru Suryomakmur.

Kabar tersebut segera menjadi buah bibir masyarakat. Dari pasar hingga warung kopi, dari kedai hingga sudut-sudut kampung kerajaan, masyarakat membicarakan sayembara besar tersebut.

Ada yang serius membicarakannya. Ada pula yang membumbuinya dengan candaan khas masyarakat.

Banyak yang Mencoba, Tetapi Tak Berhasil

Sayembara akhirnya dimulai.

Lima orang perempuan dari kalangan rakyat biasa datang menghadap patih kerajaan. Dengan penuh keyakinan mereka mengaku memiliki kemampuan untuk menyembuhkan sang putri.

Namun setelah berbagai usaha dilakukan, sang putri tetap belum sembuh.

Belum selesai cerita, datang pula seorang pemuda bertubuh kekar. Dengan penuh percaya diri ia mengaku mampu mengatasi penyakit sang putri.

Harapan kembali muncul di istana.

Tetapi lagi-lagi, usaha tersebut tidak membuahkan hasil.

Sang putri tetap belum sembuh.

Di sinilah cerita mulai membawa penonton pada sebuah pertanyaan sederhana: apakah manusia benar-benar memiliki kuasa atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan?

Datanglah Pemuda yang Diremehkan

Di tengah kegagalan orang-orang yang sebelumnya dianggap memiliki kemampuan, muncullah seorang pemuda dengan penampilan yang sangat sederhana.

Wajahnya terlihat kampungan. Pakaiannya compang-camping. Bahkan ia digambarkan memiliki penyakit kulit atau gudikan yang membuat penampilannya semakin jauh dari kesan seorang penyembuh.

Tidak ada yang menyangka bahwa pemuda tersebut justru akan menjadi bagian penting dari kisah sang putri.

Dalam perjalanan cerita, datang seorang tua yang penampilannya tampak alim. Ia membawa sebuah benda yang dalam dunia ketoprak digambarkan sebagai pusaka atau alat bertuah, sebuah simbol supranatural yang menjadi bagian dari dramatisasi cerita.

Namun benda tersebut tidak perlu dipahami sebagai kekuatan yang berdiri sendiri.

Dalam bingkai dakwah Islam, benda itu dapat dimaknai sebagai simbol ikhtiar dan wasilah dalam sebuah kisah fiktif, sementara hakikat pertolongan dan kesembuhan tetap berada pada kehendak Allah SWT.

Orang tua itu kemudian memberikan benda tersebut kepada sang pemuda.

Dengan bekal tersebut, sang pemuda pun memberanikan diri menghadap Raja Suryomakmur.

Bukan Kesaktian yang Menjadi Jawaban

Ketika berada di hadapan raja, sang pemuda tidak datang dengan kesombongan.

Ia tidak mengatakan dirinya sebagai manusia paling hebat.

Ia justru memberikan sebuah nasihat sederhana:

“Jika nanti sang putri sembuh, janganlah merasa bahwa kesembuhan itu semata-mata karena saya. Dekatlah kepada Tuhan. Sebab manusia hanya berusaha, sedangkan kesembuhan sejatinya berasal dari Allah.”

Nasihat sederhana itu menjadi titik balik cerita.

Sang pemuda kemudian melakukan ikhtiar untuk membantu sang putri.

Dan dalam alur cerita ketoprak tersebut, sang putri akhirnya sembuh.

Istana pun gempar.

Raja Suryomakmur bahagia.

Sayembara yang sebelumnya menjadi perbincangan seluruh rakyat akhirnya menemukan jawabannya.

Namun yang lebih penting dari hadiah separuh kerajaan bukanlah kemenangan sang pemuda.

Yang lebih penting adalah pesan yang ditinggalkan setelah kesembuhan itu datang.

Ketika Manusia Sadar Bahwa Dirinya Terbatas

Pertunjukan ketoprak tersebut sebenarnya membawa penonton pada sebuah renungan keagamaan.

Sering kali manusia baru mengingat Tuhan ketika berada dalam kesulitan. Ketika sehat, manusia merasa kuat. Ketika memiliki harta, merasa mampu. Ketika memiliki jabatan, merasa berkuasa.

Padahal kehidupan manusia penuh dengan keterbatasan.

Kita boleh mendatangi dokter ketika sakit. Boleh berobat, berkonsultasi, mencari bantuan orang lain, bahkan melakukan berbagai ikhtiar yang memungkinkan.

Namun dalam keyakinan Islam, semua ikhtiar itu tidak menjadikan manusia sebagai pemberi kesembuhan mutlak.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
QS. Asy-Syu’ara: 80

Ayat tersebut mengajarkan bahwa ikhtiar tidak boleh membuat manusia lupa kepada Allah.

Berusaha adalah bagian dari kehidupan. Berdoa adalah pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Ketoprak Menjadi Media Dakwah

Menariknya, pesan tersebut tidak disampaikan melalui mimbar masjid, khutbah, atau pengajian.

Pesan itu hadir melalui seni tradisi masyarakat.

Ketoprak menjadi ruang perjumpaan antara budaya, hiburan, dan nilai kehidupan.

Dialog para tokoh kerajaan membuat masyarakat tertawa. Tingkah para pemain menghidupkan suasana. Konflik dalam cerita membuat penonton penasaran.

Tetapi setelah tawa mereda, ada pesan yang dapat dibawa pulang:

Jangan mudah menilai seseorang hanya dari penampilan. Jangan sombong terhadap kemampuan yang dimiliki. Jangan berhenti berikhtiar ketika menghadapi persoalan. Dan yang paling penting, jangan pernah menjauh dari Allah ketika mendapatkan kenikmatan maupun ketika menghadapi kesulitan.

Pemuda yang dianggap kampungan dan berpenampilan sederhana justru menjadi tokoh yang membawa jawaban bagi kerajaan.

Ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari pakaian, kekayaan, jabatan, atau penampilan luarnya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
QS. Al-Hujurat: 13

Dari Suryodiningratan untuk Indonesia

Pertunjukan ketoprak dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 di RW 09 Suryodiningratan akhirnya bukan sekadar tontonan.

Ia menjadi sebuah ruang kebersamaan warga.

Seni tradisi menjadi cara masyarakat merawat kebudayaan. Kemerdekaan menjadi momentum untuk berkumpul dan bergembira. Dan cerita menjadi jalan untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan.

Masjid Al Ihsan Suryodiningratan memandang bahwa dakwah tidak selalu harus hadir dalam bentuk ceramah yang serius. Dakwah juga dapat hadir melalui budaya, seni, keteladanan, dialog masyarakat, bahkan melalui sebuah cerita fiktif yang mengajak manusia mengingat Tuhannya.

Sebab terkadang, sebuah nasihat yang disampaikan melalui cerita dapat lebih lama tinggal di hati daripada nasihat yang hanya didengar sesaat.

Dan dari panggung ketoprak Suryomakmur, sebuah pesan sederhana pun kembali terdengar:

Manusia wajib berikhtiar, tetapi jangan pernah lupa kepada siapa kita berharap. Sebab ketika semua jalan usaha telah ditempuh, Allah-lah tempat manusia menggantungkan harapan.

Catatan: kisah Raja Suryomakmur, sang putri, pemuda, dan unsur pusaka dalam cerita di atas merupakan bagian dari dramatik/fiksi pertunjukan ketoprak. Unsur supranatural diposisikan sebagai simbol artistik dalam cerita, bukan sebagai ajaran bahwa benda memiliki kekuasaan menyembuhkan secara mandiri.

Bagikan Kajian Ini