Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Kajian

Syahdunya Subuh Ahad di Masjid Al Ihsan: Antara Hikmah dan Amanah Ilmiah

Waktu terasa begitu singkat. Tanpa terasa kita telah memasuki awal Maret 2026. Pada syahdunya Subuh Ahad, 1 Maret 2026, lantunan adzan menggema, disusul iqamah yang menenangkan jiwa. Seorang imam muda melangkah maju dengan suara yang merdu, memimpin shalat berjamaah sekaligus mengisi Kuliah Subuh di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan.
Beliau adalah Ustadz Sulthon Abdus Surur. Dengan salam pembuka yang hangat, beliau memuji Allah ﷻ, bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, lalu mengingatkan jamaah tentang firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 18:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
Pesan tersebut mengajak jamaah untuk merenungi betapa luasnya karunia Allah yang sering kali luput dari kesadaran kita.
Tentang Kisah “Sya’ban” yang Disampaikan
Dalam inti materinya, ustadz muda tersebut memotivasi jamaah dengan sebuah kisah populer tentang seorang sahabat Nabi yang memilih tinggal jauh dari masjid agar setiap langkah kakinya bernilai pahala. Disebutkan pula perjalanan menuju masjid memakan waktu berjam-jam atau sekitar 3 jam.
Sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah dan kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ serta para sahabatnya, perlu disampaikan bahwa kisah yang beredar atas nama “Sya’ban” tersebut tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar seperti:
Sahih Bukhari
Sahih Muslim
Para ulama tidak menemukan sanad yang shahih ataupun kredibel tentang sahabat bernama Sya’ban dengan kisah tersebut. Karena itu, kisah ini lebih tepat diposisikan sebagai cerita hikmah atau motivasi, bukan sebagai riwayat yang dapat disandarkan langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ atau para sahabat.
Sebagian ulama bahkan mengkategorikannya sebagai kisah yang tidak memiliki dasar (tidak bersumber dari sanad yang jelas), sehingga tidak layak dinisbatkan kepada sahabat tertentu.
Tetap Mengambil Hikmah, Menjaga Amanah Ilmiah
Perlu ditegaskan, pesan moral yang terkandung di dalamnya tentang semangat menuju masjid, memperbanyak amal, dan mempersiapkan kematian adalah nilai yang benar dalam Islam. Namun dalam berdakwah, kita diajarkan untuk menjaga ketelitian dalam menyampaikan sumber.
Karena dakwah bukan hanya menyentuh hati, tetapi juga menjaga kebenaran dan amanah ilmu.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita jamaah yang rajin beribadah, tetapi juga cermat dalam menerima dan menyampaikan informasi agama.
Semoga setiap langkah kita menuju masjid benar-benar menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Fatkur Rohman

Bagikan Kajian Ini