Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Berita

Tokoh Suryodiningratan Ajak Jamaah Aktifkan Kembali PPIS, Ingatkan Kematian Begitu Dekat

Suryodiningratan – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al Ihsan Suryodiningratan seusai pelaksanaan sholat Subuh. Dalam momen penuh keheningan pagi itu, seorang tokoh masyarakat Suryodiningratan, Bapak Yaisul Havid, naik ke mimbar menyampaikan nasihat yang menyentuh hati jamaah.
Beliau membuka tausiyahnya dengan membacakan firman Allah dalam QS Al-Ankabut ayat 57:
“Kullu nafsin dzāiqatul maut…”
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
Ayat tersebut menjadi pengingat kuat bahwa kematian adalah kepastian yang tidak dapat ditunda. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa kematian sangat dekat:
Tidak mengenal usia tua ataupun muda
Tidak mengenal kondisi sehat maupun sakit
Tidak pula membedakan kaya ataupun miskin
“Semua akan kembali kepada Allah. Maka yang terpenting adalah bagaimana kita saling peduli dan mempersiapkan diri,” tutur beliau di hadapan jamaah.
Pada kesempatan itu, Bapak Yaisul Havid juga mengajak jamaah untuk kembali mengaktifkan Paguyuban Pangrukti Laya Islam Suryodiningratan (PPIS), sebuah paguyuban sosial-keagamaan yang telah terbentuk sejak 35 tahun silam. Paguyuban ini sempat vakum setelah badai pandemi Covid-19 melanda.
Sebagai tokoh masyarakat sekaligus Ketua RT 39 RW 11, beliau mengingatkan pentingnya keberadaan paguyuban pengurus jenazah sebagai bentuk ikhtiar bersama dalam menjalankan kewajiban fardu kifayah.
“Jika di suatu kampung masih ada yang peduli mengurus jenazah, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun jika tidak ada yang mengurus, maka semua berdosa,” tegasnya.
Beliau menekankan bahwa dengan aktifnya kembali PPIS, pengurusan jenazah warga dapat dilakukan secara gotong royong oleh keluarga besar Suryodiningratan, tanpa harus terbebani biaya tambahan dari rumah sakit. Lebih dari itu, keberadaan paguyuban menjadi simbol tanggung jawab sosial, kepedulian, dan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Ajakan tersebut disambut positif oleh jamaah yang hadir. Harapannya, semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang telah dirintis puluhan tahun lalu dapat kembali hidup dan menguat di tengah masyarakat Suryodiningratan.
Dengan mengingat kematian sebagai nasihat, jamaah diajak bukan untuk takut, tetapi untuk semakin peduli, memperbaiki diri, dan menguatkan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.

Penulis Fatkur Rohman

Bagikan Kajian Ini