Kultum Subuh Bersama Ustadz Guslim Masjid Al Ihsan Suryodiningratan, Mantrijeron Kota Yogyakarta
Fajar Selasa itu, 3 Maret 2026, udara di sekitar Masjid Al Ihsan Suryodiningratan terasa sejuk dan menenangkan. Ustadz Guslim melangkah menjadi imam shalat Subuh. Dengan bacaan Al-Fatihah yang tartil, dilanjutkan surat Al-Insyirah dan Ad-Dhuha, suasana jamaah terasa syahdu. Seakan setiap ayat menjadi pelipur lara dan penguat hati.
Dalam kultum subuhnya, beliau mengawali dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Beliau menekankan bagian akhir ayat tersebut: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (la‘allakum tattaqūn) agar kamu bertakwa.
Taqwa menjadi tujuan. Taqwa menjadi orientasi. Taqwa menjadi bekal menjalani kehidupan dunia hingga akhirat.
Setiap hari Jum’at, para khatib di seluruh dunia mengingatkan: ittaqullah bertakwalah kepada Allah. Ajakan itu terus menggema. Sampai kapan? Sampai mati. Karena takwa bukan musiman, bukan hanya di bulan tertentu, tetapi sepanjang hayat.
Ustadz Guslim mengingatkan bahwa setiap ibadah bermuara pada takwa.
Kita shalat menuju takwa.
Kita berhaji menuju takwa.
Lalu bagaimana ciri orang yang bertakwa?
Allah menjelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 3:
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)
Mereka percaya pada yang ghaib.
Percaya kepada malaikat.
Percaya kepada isi Al-Qur’an.
Percaya kepada hari akhir.
Percaya adanya surga dan neraka.
Keyakinan itu melahirkan ketenangan hati. Hati mereka teduh karena sandarannya jelas. Mereka terhindar dari maksiat karena merasa selalu diawasi Allah. Mereka ikhlas melaksanakan apa pun perintah-Nya, bukan karena ingin dipuji manusia, tetapi karena ingin dekat dengan Rabb-nya.
Shalat mereka bukan sekadar gerakan. Bukan sekadar berdiri, rukuk, dan sujud. Tetapi menghadirkan hati. Khusyuk bukan hanya di pikiran saja, tetapi menyatu dalam seluruh tindakan dan anggota tubuh.
Subuh itu menjadi pengingat lembut:
Bahwa hidup ini sementara.
Bahwa tujuan ibadah adalah takwa.
Bahwa takwa adalah bekal terbaik menuju kehidupan yang lebih abadi.
Semoga setiap langkah kita menuju masjid, setiap rakaat yang kita dirikan, benar-benar mengantarkan kita menjadi hamba yang bertakwa.
Penulis Ringkasan : Fatkur Rohman (Marbot Masjid Al Ihsan Suryodiningratan)
