Dari Kisah “Sya’ban” ke Keteladanan Nyata: Pak Parjono dan Langkah Menuju Masjid
Waktu terus berjalan. Kuliah Subuh Ahad lalu mengingatkan kita pada sebuah kisah populer tentang seorang sahabat yang memilih tinggal jauh dari masjid agar setiap langkahnya bernilai pahala. Sebagaimana telah disampaikan, kisah “Sya’ban” tersebut lebih tepat dipahami sebagai cerita hikmah, bukan riwayat dengan sanad shahih.
Namun di balik kisah motivatif itu, ternyata kita memiliki cerita nyata bukan dari masa lampau, tetapi dari halaman masjid kita sendiri.
Pak Parjono: Langkah yang Nyata, Bukan Sekadar Cerita
Pak Parjono adalah jamaah setia Masjid Al Ihsan Suryodiningratan. Sehari-hari beliau bekerja sebagai juru parkir di wilayah Kota Yogyakarta. Jarak dari rumahnya ke tempat bekerja sekitar 13 kilometer. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, mungkin memakan waktu 2 hingga 3 jam. Namun beliau memilih mengayuh sepeda yang dapat ditempuh 1 jam dari Kabupaten Bantul. sederhana, tenang, penuh kesungguhan.
Ada alasan mengapa beliau tetap memilih menjadi jamaah Masjid Al Ihsan. Kampung Suryodiningratan bukan tempat asing baginya. Di sanalah tersimpan kenangan masa kecil, remaja, hingga dewasa. Masjid ini bukan sekadar bangunan, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya.
Muadzin yang Menghidupkan Ramadhan
Di balik suara adzannya yang merdu, ada keikhlasan yang jarang terlihat. Pada bulan Ramadhan, Pak Parjono memilih beri’tikaf di masjid sejak selepas Ashar. Seusai bekerja seharian, beliau tetap menyempatkan shalat Dzuhur di Masjid Al Ihsan, membantu menyiapkan takjil berbuka, lalu melanjutkan shalat Maghrib, Isya, dan Tarawih berjamaah.
Tak jarang, beliau memilih beri’tikaf hingga Subuh.
Sepedanya terparkir sederhana di halaman masjid. Di dalam tas yang selalu dibawanya, tersimpan pakaian bersih dan perlengkapan shalat. Semua dipersiapkan dengan rapi sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian ibadah.
Suatu malam menjelang pukul 22.00, setelah tadarus usai, penulis mencoba menyapanya. Beliau tampak beristirahat di serambi masjid, bukan di dalam ruangan atau kamar kosong yang telah disediakan.
Ketika ditawari untuk beristirahat di dalam, beliau dengan santun menolak. Katanya, di teras terasa lebih hangat dan ia merasa lebih tenang dalam menjaga kesucian masjid.
Alasannya sederhana namun dalam:
Ia ingin menjaga agar shalat lima waktunya tidak pernah terlambat.
Relevansi yang Menghidupkan
Kisah “Sya’ban” mungkin hanya cerita motivasi.
Namun Pak Parjono adalah kenyataan yang hidup di tengah kita.
Beliau tidak berjalan tiga jam menuju Masjid Nabawi di Madinah. Tetapi beliau mengayuh sepeda puluhan kilometer demi menjaga kedekatan dengan masjid dan kenangan iman di dalamnya.
Beliau tidak tercatat dalam kitab-kitab besar seperti Sahih Bukhari atau Sahih Muslim.
Namun langkahnya dicatat oleh Allah ﷻ.
Di situlah letak pelajarannya.
Bahwa keistiqamahan tidak selalu lahir dari kisah besar masa lalu. Terkadang ia tumbuh dari kesederhanaan seseorang yang memilih hadir, memilih mengayuh sepeda, memilih duduk di pojok serambi masjid, dan memilih menjaga shalatnya tepat waktu.
Hikmah untuk Kita
Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi rumah ruhani.
Jarak bukan alasan jika hati sudah terpaut.
Kesederhanaan bukan penghalang untuk menjadi mulia di sisi Allah.
Semoga langkah-langkah Pak Parjono menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa menuju masjid bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati.
Wallahu a’lam bish-shawab.
