Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Kajian

Langkah Sunyi Menuju Subuh: Kisah Pak Harjono (82 Tahun) yang Menyentuh Iman

Penulis : Fatkur Rohman, M.Pd.I
Penyuluh Agama Islam KUA Mantrijeron, Kota Yogyakarta


Di sudut tenang kampung Masjid Al Ihsan Suryodiningratan, ada satu sosok yang langkahnya lebih dulu sampai sebelum fajar benar-benar menyingsing. Namanya Pak Harjono, 82 tahun. Seorang pengerajin marching bell alat kecil bernada yang biasa mengiringi irama. Namun siapa sangka, di usia senjanya, justru beliau yang mengajarkan kami tentang irama paling indah: irama istiqamah menuju rumah Allah.
Setiap Subuh, sebelum adzan berkumandang, beliau telah duduk tenang di saf depan. Ketika saya bertanya, “Pak, bagaimana bisa selalu datang lebih awal? Apa alasannya?”
Jawabannya sederhana, namun menghujam hati.
“Alasan tidak ada. Hanya ingin segera. Ustadz sering bilang jangan telat, tepat waktu. Ini amalan sederhana. Saya sudah terbiasa janji, bukan nunda-nunda. Terbiasa datang lebih awal. Menunda waktu karena kesibukan itu sangat disayangkan. Dunia nggak ada habisnya. Orang itu bukan tidak sibuk, tapi sering cari-cari kesibukan.”
Kalimat itu seperti alarm bagi jiwa. Betapa sering kita merasa sibuk, padahal mungkin kita hanya sedang menunda yang paling penting.
Rasa penasaran membawa saya mengejar beliau hingga ke kediamannya. Saya ingin tahu lebih jauh tentang lelaki sepuh yang merangkai nada dengan tangannya, dan merangkai pahala dengan langkahnya.
Di rumahnya yang sederhana, beliau bercerita pelan.
Sejak kecil, katanya, beliau termasuk anak yang nakal. Namun ada satu tekad yang tak pernah padam: ingin bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar. Di usia 70 tahun, beliau kembali belajar dari Iqro’. Belajar bersama Pak Havid, dengan penuh kesabaran, hingga tiga tahun lamanya akhirnya bisa membaca Al-Qur’an.
“Saya malu kalau sudah tua tapi belum lancar baca Qur’an,” tuturnya lirih.
Pak Havid, selaku Ketua RT 39/11 Suryodiningratan, membenarkan bahwa Pak Harjono termasuk assabiqul awwalun pembentukan kelompok belajar Al-Qur’an yang kemudian dikenal sebagai Majelis Husnul Khotimah sejak April 2009. Dari seorang yang merasa “nakal” di masa kecilnya, beliau justru menjadi bagian penggerak majelis ilmu di masa tuanya.
Beliau juga berkisah, hidayah untuk benar-benar rajin ke masjid justru datang di akhir bulan Ramadhan. Seolah Allah memanggilnya lebih dekat, lebih sungguh-sungguh.
Dari Pak Harjono, saya belajar bahwa istiqamah tidak selalu lahir dari orang yang sempurna sejak awal. Ia lahir dari tekad yang tidak mau padam. Dari rasa malu kepada Allah. Dari kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus.
Beliau tidak berbicara tentang pencapaian besar. Tidak tentang jabatan. Tidak tentang dunia. Hanya tentang datang lebih awal. Tentang tidak menunda. Tentang menepati janji kepada Allah.
Di usia 82 tahun, ketika banyak orang mulai mengurangi langkah, beliau justru menambah langkah menuju masjid. Ketika banyak orang beralasan sibuk, beliau berkata, “Dunia nggak ada habisnya.”
Langkah sunyinya setiap Subuh adalah nasihat tanpa mimbar. Ketepatan waktunya adalah ceramah tanpa kata-kata panjang. Kesederhanaannya adalah tamparan lembut bagi kita yang sering menunda.
Semoga Allah menjaga langkah Pak Harjono.
Semoga Allah memuliakan usianya dengan husnul khatimah.
Dan semoga kita, yang masih diberi tenaga dan waktu, tidak kalah semangat dari beliau yang telah 82 tahun menjaga janjinya kepada Subuh.

Bagikan Kajian Ini