Bahaya Adu Domba: Ancaman Mengerikan di Balik Lisan
Bahaya Adu Domba: Ancaman Mengerikan di Balik Lisan
Kajian Jelang Berbuka Puasa di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan
Ustadz Jalu Nugroho, SE
Sebelum berbuka puasa memenuhi kebutuhan jasmani dengan hidangan yang tersaji, Masjid Al Ihsan Suryodiningratan setiap hari selama bulan Ramadhan terlebih dahulu menyajikan kebutuhan rohani melalui kajian jelang berbuka. Setiap hari, pemateri yang berbeda hadir menyampaikan nasihat dan tausiyah untuk menenangkan hati serta menguatkan iman.
Pada kesempatan hari Rabu, 4 Maret 2026, kajian diisi oleh Ustadz Jalu Nugroho dengan tema:
“Bahaya Adu Domba dan Ancaman Mengerikan Namimah.”
Lisan yang Tampak Ringan, Namun Berat di Timbangan
Dalam penyampaiannya, Ustadz Jalu menegaskan bahwa adu domba (namimah) adalah dosa lisan yang sering dianggap kecil, padahal dampaknya sangat besar. Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan dan menimbulkan permusuhan.
Beliau mengingatkan firman Allah ﷻ:
“Dan janganlah engkau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah (adu domba).”
(QS. Al-Qalam: 10–11)
Ayat ini menjadi peringatan tegas bahwa penyebar adu domba termasuk golongan yang tercela akhlaknya.
Ancaman Mengerikan bagi Pelaku Namimah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan dan menjelaskan bahwa salah satunya disiksa karena suka mengadu domba di antara manusia (HR. Bukhari).
Ancaman tersebut menunjukkan bahwa namimah bukan sekadar kesalahan sosial, tetapi dosa besar yang berimplikasi pada kehidupan akhirat.
Ustadz Jalu mengingatkan, satu kalimat yang dipindahkan dari satu majelis ke majelis lain bisa menjadi sebab:
Retaknya persaudaraan
Putusnya silaturahmi
Hancurnya keharmonisan keluarga
Datangnya siksa kubur
Ramadhan: Momentum Membersihkan Lisan
Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan lisan dari ucapan yang menyakiti. Puasa yang sempurna adalah puasa yang menjaga hati dan ucapan.
Menjelang kumandang adzan Maghrib, suasana masjid semakin hening. Jamaah bukan hanya menanti hidangan berbuka, tetapi juga merenungi setiap nasihat yang telah disampaikan. Sebab boleh jadi, bukan makanan yang paling kita butuhkan, tetapi ampunan dan penjagaan Allah atas lisan kita.
Harapan dan Doa
Di akhir kajian, Ustadz Jalu mengajak jamaah untuk memohon perlindungan kepada Allah dari dosa lisan dan memohon agar Ramadhan ini menjadi momentum perubahan diri.
Semoga Allah menjaga lisan kita dari namimah, mengampuni dosa-dosa kita, mempererat ukhuwah di antara kita, dan menutup usia kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
