Indahnya Menanti Sholat dan Kemuliaan Muadzin
Oleh : Ustadz Basuki Kurniawan
Kultum Tarawih di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan
Suasana malam Ramadhan di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan terasa syahdu. Usai rangkaian sholat Isya dan sebelum Tarawih dilanjutkan, kultum disampaikan oleh Ustadz Basuki Kurniawan dengan tema yang menyejukkan hati: keutamaan sabar menunggu sholat dan kemuliaan para muadzin.
Menunggu Sholat Bernilai Sholat
Di awal pembukaannya, beliau mengingatkan bahwa duduk tenang di masjid sembari menanti iqamah bukanlah waktu yang sia-sia. Justru itulah waktu yang penuh pahala.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang hamba senantiasa dianggap dalam sholat selama ia menunggu sholat berikutnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi kabar gembira bagi jamaah yang bersabar menanti waktu sholat. Setiap detik penantian bernilai ibadah. Malaikat mendoakan, hati ditenangkan, dan dosa-dosa dihapuskan.
Ramadhan melatih kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih kesabaran termasuk sabar dalam menunggu panggilan Allah.
Makna Adzan: Dari Sholat Menuju Kebahagiaan
Ustadz Basuki juga mengulas makna mendalam dari kalimat adzan:
“Hayya ‘alash sholah” Mari menuju sholat.
“Hayya ‘alal falah” Mari menuju kemenangan dan kebahagiaan.
Beliau menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati (falah) tidak akan diraih tanpa terlebih dahulu memenuhi panggilan sholat. Allah memanggil kita menuju ibadah, lalu menjanjikan keberuntungan dunia dan akhirat.
Sholat adalah jalan, dan falah adalah buahnya.
Kemuliaan dan Doa bagi Muadzin
Dalam kultumnya, beliau juga membacakan hadis tentang kemuliaan muadzin:
“Imam adalah penanggung jawab, dan muadzin adalah orang yang dipercaya. Ya Allah, berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para muadzin.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan doa langsung Rasulullah ﷺ bagi para muadzin.
Dalam hadis lain disebutkan:
“Muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)
Para ulama menafsirkan bahwa mereka mendapatkan kedudukan mulia, dikenal dan dimuliakan di hadapan Allah pada hari kebangkitan.
Ramadhan: Momentum Menjadi Hamba yang Sabar
Kultum ditutup dengan pesan agar jamaah:
Sabar menunggu sholat sebagai bentuk cinta kepada Allah.
Menghormati dan mendoakan para imam serta muadzin.
Menjadikan adzan bukan sekadar panggilan, tetapi undangan menuju kebahagiaan sejati.
Semoga Ramadhan ini menjadikan kita hamba yang ringan melangkah ke masjid, sabar menanti sholat, mencintai adzan, serta termasuk golongan yang meraih falah di dunia dan akhirat.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin
