Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

BeritaKajian

“Kultum Subuh yang Menyentuh Hati: Amal, Rahmat Allah, dan Sementara-Nya Dunia”

Di subuh hari, gemericik air taman masjid mengalir pelan. Kicauan burung bersaut-sautan menyambut fajar. Suasana di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan terasa begitu teduh.
Satu per satu jamaah mulai berdatangan. Namun shaf belum ada yang maju. Di puasa ke-18 Ramadhan 1447 H ini, ruang masjid yang menjadi tempat shalat masih tampak rapat dan padat hingga shaf belakang.
Sebelum penceramah kultum subuh naik mimbar, panitia Ramadhan Masjid Al Ihsan Suryodiningratan melalui Sie Zakat Fitrah, Imam Santoso, menyampaikan laporan keuangan kotak infak Ramadhan. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para imam muda dari Pondok Pesantren Tahfidz Raudhatul Muta’alimin yang dengan setia membersamai jamaah sebagai imam tetap sepanjang Ramadhan 1447 H ini.
Alhamdulillah, laporan infak Ramadhan hingga hari Jum’at, 6 Maret 2026 mencapai Rp10.206.000.
Setelah laporan selesai, Gurunda H. Djatmiko menaiki mimbar. Dengan nada lirih namun tegas, beliau menyampaikan kultum yang menyentuh hati jamaah.
Beliau mengingatkan sabda Nabi Muhammad:
“Tidaklah amal salah seorang dari kalian yang memasukkannya ke dalam surga.”
Para sahabat bertanya, “Engkau juga tidak, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Tidak, aku pun tidak, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maknanya, amal ibadah kita di bulan Ramadhan hanyalah sebab untuk meraih rahmat Allah, bukan alat tukar yang sebanding dengan surga.
Kemudian beliau juga mengingatkan hadis dari Al-Mustaurid bin Syaddad:
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya ketika ia keluarkan dari laut.”
(HR. Muslim no. 2868)
Begitulah dunia. Sangat kecil dibandingkan luasnya kehidupan akhirat.
Pada satu bagian kultum, Ustadz H. Djatmiko tiba-tiba mengubah nada suaranya menjadi lebih lirih, lalu dengan wajah penuh harap beliau mengajak jamaah membayangkan betapa luasnya rahmat Allah.
Beliau berkata pelan, seolah berbicara pada diri sendiri dan jamaah,
“Kalau kita ini mendapat rahmat Allah… eh… eh… eh… Alhamdulillah…”
Jamaah pun tersenyum kecil mendengarnya. Ekspresi beliau menggambarkan kebahagiaan seorang hamba yang berharap sepenuhnya kepada rahmat Allah.
Namun seketika nada itu berubah. Dengan gaya bercerita yang sederhana namun mengena, beliau memberi peringatan,
“Bayangkan… ini bulan puasa… tapi ada siang siang yang malah duduk di angkringan… eh… eh… eh… Astaghfirullah…”
Jamaah pun tertawa kecil, namun di balik tawa itu tersimpan pesan yang dalam: manusia sering kali lalai terhadap kesempatan besar yang Allah berikan.
Menutup kultum, Ustadz H. Djatmiko mengajak jamaah merenungi syair karya Derry Sulaiman yang mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Bersyukurlah atas segala
Apa yang kita dapatkan
Karena semuanya begitu indah
Bersabarlah atas segala
Musibah yang menghampiri
Karena semuanya tak akan lama
Sedih sementara
Bahagia sementara
Sakit sementara
Sehat sementara
Miskin sementara
Kaya pun sementara
Dunia sementara
Akhirat selama-lamanya
Di subuh yang tenang itu, jamaah seakan diingatkan kembali:
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum menyadari bahwa dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat adalah tujuan yang sebenarnya.

Bagikan Kajian Ini