Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Kajian

Hidayah Hak Preogratif Allah.Kajian Menjelang Berbuka Puasa di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan

sabtu, 7 Maret 2026 Menjelang waktu berbuka puasa di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan, suasana jamaah terasa semakin khidmat. Di tengah penantian detik-detik adzan Maghrib, jamaah mendapatkan siraman rohani melalui kajian yang disampaikan oleh Suwadi Purnama Widada.
Dalam pengantarnya, beliau mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan untuk menjaga lisan, hati, dan perilaku. Salah satu hal yang sering merusak nilai puasa adalah ghibah, yaitu membicarakan keburukan, aib, atau kekurangan orang lain di belakangnya. Walaupun apa yang dibicarakan itu benar adanya, jika orang yang dibicarakan tidak menyukainya ketika mendengar hal tersebut, maka itulah yang disebut ghibah.
Dalam ajaran Islam, ghibah merupakan perbuatan yang sangat dilarang. Bahkan Al-Qur’an mengibaratkannya seperti memakan bangkai saudara sendiri, sebuah gambaran yang menunjukkan betapa buruknya perbuatan tersebut di sisi Allah. Karena itu, bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk melatih diri menjaga lisan, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, serta memperbaiki akhlak kepada sesama.
Beliau juga mengingatkan sebuah peringatan Rasulullah ﷺ bahwa ada orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga. Hal itu terjadi ketika seseorang hanya menahan makan dan minum, tetapi tidak menjaga perilaku, perkataan, dan hatinya dari perbuatan dosa.
Selanjutnya, dalam kajian tersebut beliau mengajak jamaah untuk mensyukuri dan mempertahankan akidah serta hidayah yang telah Allah tanamkan dalam diri kita sejak kecil. Tidak semua orang mendapatkan nikmat iman dan Islam. Hidayah adalah anugerah besar dari Allah, dan bersama hidayah itu Allah juga memberikan taufik, yaitu kemampuan untuk menjalankan kebaikan.
Namun perlu disadari bahwa hidayah sepenuhnya adalah hak prerogatif Allah. Tidak ada manusia yang mampu memberikan hidayah kepada orang lain jika Allah tidak menghendakinya. Banyak contoh dalam sejarah yang menunjukkan hal tersebut.
Di antaranya adalah kisah istri Nabi Luth yang tidak beriman kepada dakwah suaminya, serta kaum Nabi Nuh yang tetap menolak ajaran tauhid meskipun telah didakwahi dalam waktu yang sangat lama. Bahkan dalam kehidupan Rasulullah ﷺ sendiri, ada pelajaran yang sangat menyentuh. Paman beliau, Abu Talib, adalah orang yang sangat melindungi dan mencintai Nabi. Menjelang wafatnya, Nabi Muhammad ﷺ memohon agar pamannya mengucapkan kalimat tauhid sebagai tanda keimanan.
Namun saat itu, tokoh Quraisy seperti Abu Jahal terus menghalangi dan mempengaruhi Abu Thalib agar tidak mengikuti ajaran Nabi. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tanpa sempat mengucapkan syahadat.
Kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa hidayah tidak bisa dipaksakan oleh siapa pun, bahkan oleh seorang nabi kepada keluarganya sendiri. Hidayah benar-benar berada di tangan Allah.
Meski demikian, sebagai manusia kita tetap memiliki kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan hidayah yang telah Allah berikan. Caranya adalah dengan memperkuat iman, menjaga akhlak, memperbanyak ibadah, dan menjauhi perbuatan yang dapat mengotori hati.
Jika hidayah tidak dijaga, maka dikhawatirkan Allah dapat mencabutnya dari hati manusia. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk memperbaiki diri, membersihkan hati, dan memperkokoh keimanan.
Semoga melalui puasa, kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mampu menjaga lisan dari ghibah, menjaga hati dari keburukan, serta mempertahankan hidayah yang telah Allah titipkan dalam diri kita. Dengan demikian, puasa yang kita jalani benar-benar menjadi jalan menuju ketakwaan dan keberkahan hidup

Bagikan Kajian Ini