Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Kajian

Di Teras Rumah Pak Pramono: Cerita Rezeki, Tawa, dan Hikmah Ramadhan

Suasana Ramadhan di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan selalu punya cerita. Setelah kebahagiaan berbuka puasa bersama, jamaah menikmati ketenangan usai shalat Magrib dan dua rakaat ba’da Magrib. Perut sudah hangat oleh hidangan berbuka, hati pun terasa lebih lapang oleh ibadah.

Di salah satu sudut yang sederhana namun hangat—teras rumah Pak Pramono—malam itu menjadi saksi sebuah obrolan ringan yang penuh makna.

Pak Pramono, yang kini berusia 62 tahun, adalah salah satu saksi hidup perjalanan Masjid Al Ihsan Suryodiningratan. Dari masa mudanya, beliau sudah dekat dengan masjid. Dahulu ia aktif menjadi penjaga masjid sekaligus muadzin. Banyak kenangan yang tersimpan di benaknya tentang bagaimana masjid ini tumbuh bersama masyarakat.

Di teras rumahnya yang sederhana, kami duduk santai ditemani secangkir kopi hangat. Kepulan asap tipis dari cangkir kopi perlahan naik ke udara malam, sementara obrolan mengalir seperti sahabat lama yang baru bertemu.

Pak Pramono bercerita tentang perjalanan hidupnya. Dari pekerjaan merias taman, berjualan tanaman, hingga pernah membuka bengkel motor di Kota Yogyakarta. Banyak usaha telah ia jalani—semua bagian dari ikhtiar mencari rezeki.

Setelah beberapa seruput kopi, obrolan pun mulai masuk ke topik yang lebih dalam: tentang rezeki.

Saya pun memberanikan diri bertanya dengan nada santai.

“Pak, kalau berdagang itu sebenarnya rezeki dari ikhtiar atau dari berserah diri?”

Pak Pramono tersenyum kecil sebelum menjawab.

“Ya dua-duanya,” katanya ringan.
“Ada usaha, ada doa. Tapi kalau dagang itu ya harus ikhtiar. Harus usaha.”

Beliau lalu menambahkan dengan nada bercanda.

“Kecuali pak yai,” katanya sambil tertawa kecil.
“Doanya itu sudah termasuk ikhtiar. Kadang setelah doa, tiba-tiba ada yang antar mobil, ada yang infakkan tanah.”

Kami tertawa bersama.

Beliau bahkan bercerita tentang seorang kiai yang ia kenal. Dahulu sang kiai bahkan belum bisa menyetir mobil, namun karena keberkahan dakwahnya, mobil datang sendiri sebagai amanah dari umat.

Obrolan sederhana itu membuat saya teringat pada sebuah kisah klasik dalam tradisi ulama: dialog antara Imam Malik dan Imam Syafi’i tentang rezeki.

Dalam pandangan Imam Malik, rezeki adalah sesuatu yang datang dari tawakal kepada Allah. Manusia cukup berserah diri dengan keyakinan bahwa Allah telah menjamin rezeki hamba-Nya.

Sementara Imam Syafi’i memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Menurut beliau, rezeki memang dari Allah, tetapi harus dijemput dengan usaha (ikhtiar).

Suatu hari, Imam Syafi’i pernah membantu seorang tua yang kesulitan membawa kurma yang berat. Sebagai tanda terima kasih, orang tua itu memberikan beberapa kurma kepada beliau.

Imam Syafi’i kemudian membawa kurma tersebut kepada Imam Malik.

Imam Malik tersenyum ketika menerima kurma itu dan berkata dengan santai,

“Lihatlah, aku mendapatkan rezeki tanpa harus keluar rumah.”

Mendengar itu, Imam Syafi’i pun tersenyum. Keduanya tertawa bersama.

Perbedaan pendapat tidak membuat mereka saling merendahkan. Justru dari perbedaan itu muncul saling menghormati dan kebijaksanaan.

Obrolan di teras Pak Pramono malam itu terasa seperti mengulang kembali hikmah dari kisah para ulama tersebut.

Bahwa dalam hidup, rezeki memang dari Allah, tetapi manusia tetap perlu berjalan menjemputnya.

Ada saatnya kita berusaha keras, ada saatnya kita berserah penuh.
Ada rezeki yang datang karena kerja, ada pula yang datang karena keberkahan doa.

Dan mungkin, hikmah paling indah dari malam itu bukan hanya tentang rezeki.

Tetapi tentang bagaimana Ramadhan mempertemukan hati-hati yang sederhana, di teras rumah, ditemani kopi hangat, cerita masa lalu, dan tawa yang membuat malam terasa begitu akrab.

Kadang, dari obrolan ringan seperti itulah, hikmah besar justru lahir tanpa terasa.

Bagikan Kajian Ini