Menjemput Kemuliaan di Ujung Ramadhan
Kultum Subuh Ustadz Endang Hidayat di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan
Suasana subuh di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan terasa begitu teduh. Udara pagi masih sejuk, sementara jamaah duduk rapi menyimak tausiyah yang disampaikan dengan santun oleh Ustadz Endang Hidayat. Dengan senyum hangat, beliau terlebih dahulu menyapa para jamaah, mengajak semua yang hadir untuk bersyukur karena masih diberi kesempatan menikmati hari-hari terakhir Ramadhan.
Dalam kultum subuh tersebut, Ustadz Endang mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ justru semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Hal ini karena di dalamnya terdapat satu malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Qadr. Allah Ta’ala telah mengabadikan kemuliaannya dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Qadr.
“Lailatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
Beliau menjelaskan bahwa Lailatul Qadr bukan sekadar malam yang dicari dengan ritual semata, tetapi malam yang Allah berikan kepada hamba yang telah mempersiapkan dirinya dengan ibadah sepanjang Ramadhan. Seolah-olah malam itu “mengenal” siapa yang sungguh-sungguh beribadah sebelumnya.
Karena itulah Rasulullah ﷺ berharap Ramadhan yang dijalani setiap tahun selalu lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Namun seringkali manusia justru terpecah fokusnya di penghujung bulan suci ini. Kesibukan mempersiapkan mudik, belanja, atau urusan dunia lainnya kadang membuat ibadah tidak lagi dijalankan dengan kesungguhan seperti di awal Ramadhan.
Padahal, justru di akhir Ramadhan inilah kesempatan terbesar untuk meraih kemuliaan.
Pelajaran dari Ayat-Ayat Utama Al-Qur’an
Dalam tausiyahnya, Ustadz Endang juga mengajak jamaah merenungkan bahwa sebagaimana di antara para nabi terdapat nabi-nabi pilihan yang disebut Ulul Azmi, demikian pula dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang memiliki keutamaan besar.
Dari sekian banyak rasul, ada lima rasul Ulul Azmi yang dikenal memiliki keteguhan luar biasa dalam dakwah:
Nabi Muhammad ﷺ
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
Nabi Nuh ‘alaihis salam
Nabi Isa ‘alaihis salam
Nabi Musa ‘alaihis salam
Begitu pula dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang sangat utama, yaitu Ayat Kursi dalam Surah Al-Baqarah 255. Ayat ini menjadi amalan yang sangat dianjurkan untuk dibaca setiap hari.
Beliau mengingatkan kebiasaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ setelah shalat, yaitu membaca dzikir:
Tasbih 33 kali
Tahmid 33 kali
Takbir 33 kali
Kemudian dilanjutkan dengan membaca Ayat Kursi, serta tiga surat perlindungan:
Surah Al-Ikhlas
Surah Al-Falaq
Surah An-Nas
Amalan sederhana ini menjadi benteng perlindungan bagi seorang mukmin.
Kisah Sahabat dan Gangguan Jin
Untuk menguatkan pesan tersebut, Ustadz Endang menceritakan sebuah kisah dari para sahabat.
Dikisahkan seorang sahabat bernama Thalhah memiliki tempat penyimpanan kurma yang biasa ia gunakan untuk bersedekah. Suatu ketika kurma tersebut sering berkurang tanpa diketahui siapa yang mengambilnya.
Pada suatu malam ia mendapati seorang remaja yang ternyata mencuri kurma tersebut. Ketika ditanya siapa dirinya, remaja itu menjawab bahwa ia adalah jin. Jin itu mengaku tidak senang melihat sahabat tersebut sering bersedekah dengan kurma.
Kemudian jin tersebut mengatakan bahwa ada satu amalan yang bisa melindungi dari gangguan mereka, yaitu membaca Ayat Kursi.
Keesokan paginya, sahabat tersebut menyampaikan kejadian itu kepada Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah bersabda bahwa makhluk yang datang itu adalah jin yang buruk, namun apa yang ia sampaikan tentang keutamaan Ayat Kursi adalah benar.
Dari kisah ini jamaah diingatkan bahwa perlindungan terbaik bagi seorang mukmin adalah dengan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.
Ramadhan: Bulan Terbaik dalam Setahun
Ustadz Endang menegaskan bahwa sebagaimana dalam Al-Qur’an ada ayat yang paling utama, maka dalam setahun juga terdapat bulan yang paling mulia, yaitu bulan Ramadhan.
Rasulullah ﷺ sangat berharap agar umatnya bisa masuk surga bersama. Karena itu beliau juga mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang kepala keluarga tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya.
Seorang suami hendaknya mengingatkan istrinya untuk menjaga ibadah, menutup aurat dengan baik, serta membimbing anak-anaknya agar terbiasa bangun sahur dan menjalankan puasa.
Sebab kelak di akhirat setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya.
Harapan terbesar seorang mukmin adalah dapat berkumpul kembali dengan keluarga di dalam surga. Allah Ta’ala berfirman:
“(Yaitu) surga-surga ‘Adn yang mereka masuki bersama orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya.”
(QS. Ar-Ra’d: 23)
Namun beliau mengingatkan bahwa kebersamaan di akhirat bukan ditentukan oleh kedekatan tempat di dunia. Kuburan yang berdampingan tidak menjamin seseorang berkumpul kembali di akhirat.
Yang menentukan adalah amal dan ketakwaan masing-masing.
Karena itu tidak perlu berlebihan dalam hal-hal yang tidak memberi manfaat, seperti membangun kemewahan pada makam. Yang paling berharga bagi seseorang setelah wafat adalah amal saleh yang ia bawa.
Memperbanyak Doa di Penghujung Ramadhan
Menjelang akhir kultum, Ustadz Endang mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ saat mencari Lailatul Qadr:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Dengan doa tersebut, seorang hamba memohon agar Allah menghapus dosa-dosanya dan memberikan keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
Kultum subuh yang penuh hikmah itu pun ditutup dengan doa kafaratul majelis, seraya berharap agar silaturahmi dan ilmu yang disampaikan pada pagi hari itu membawa manfaat bagi seluruh jamaah.
Semoga Ramadhan yang sedang kita jalani menjadi jalan menuju ampunan Allah, dan semoga kita semua dipertemukan kembali di surga-Nya bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai
