Majelis Husnul Khotimah Kembali Bergeliat Pasca Ramadhan: Menguatkan Iman dan Istiqomah Bersama Al-Qur’an
Pasca libur Ramadhan, semangat jamaah kembali tumbuh dalam kegiatan rutin Majelis Husnul Khotimah yang diselenggarakan di kediaman Bapak Yaisul Havid, Ketua RT 39 RW 11 Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Majelis ini secara istiqomah dilaksanakan setiap Senin malam Selasa dengan agenda tadarus dan belajar Al-Qur’an sebagai upaya menjaga ruhani tetap hangat setelah Ramadhan.
Dalam pengajian tersebut, Ustadz Drs. Taufiq Ahmad kembali memberikan tausiyah sebagai “pemanasan iman” bagi jamaah. Beliau menekankan bahwa harta hanyalah bagian kecil dari nikmat Allah.
“Nikmat sehat dan semangat dalam beribadah itulah yang mendorong kita mampu menyelesaikan bulan Ramadhan,” beliau mengawali.
Menurut beliau, dalam anggapan manusia, kenikmatan sering diidentikkan dengan banyaknya harta. Namun hal tersebut tidaklah tepat.
Mboten, bukan itu.
Manusia sering tidak menyadari bahwa harta justru merupakan ujian dari Allah. Semakin meningkat jumlah harta benda, maka semakin berat pula ujian yang dihadapi. Harta berlimpah bukanlah kenikmatan sesungguhnya jika tidak diiringi dengan keimanan.
Beliau kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala…”
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya harta atau gelar, melainkan pada kualitas amal terbaik (ahsanu ‘amala).
Bukan panggilan-panggilan mulia yang menjadi ukuran, bahkan dalam hal-hal yang tidak menyenangkan sekalipun, kita dituntut untuk tetap bersikap ahsan. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari, saat menghadapi istri yang sedang berbeda pendapat, masih sibuk dengan handphone, menonton, atau ketika anak melakukan kesalahan.
Di situlah letak amal kita.
Apa itu ahsan?
Yaitu memberikan nasihat.
Nasihat adalah bagian dari amal terbaik. Dalam Surah Al-‘Ashr Allah berfirman:
“Wa tawāṣaw bil-ḥaqqi wa tawāṣaw biṣ-ṣabr”
“Dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 3)
Jangan mengira bahwa memberi nasihat hanya tugas para nabi, kiayi, gus dan ustadz. Kita semua memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan.
Beliau juga mengingatkan kisah dalam Al-Qur’an:
“‘Abasa wa tawallā, an jā’ahul a‘mā”
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.”
(QS. ‘Abasa: 1–2)
Ayat ini menjadi pelajaran bahwa bahkan Rasulullah SAW pun ditegur oleh Allah, menunjukkan bahwa setiap manusia selalu berada dalam pengawasan-Nya.
“Bapak-bapak ingkang dirahmati Allah, setiap saat kita ini selalu dalam pengawasan Allah. Kita selalu dimonitor, mana di antara kita yang paling bagus amalnya.”
Beliau mengingatkan bahwa kematian itu pasti dan semakin dekat seiring bertambahnya usia.
“Maka mari selalu mengingatkan keluarga kita untuk selalu ingat kepada Allah.”
Pasca Ramadhan, jamaah diajak untuk meningkatkan iman melalui amalan-amalan di bulan Syawal dan seterusnya. Jika ada jamaah yang belum hadir, hendaknya saling mengingatkan. Karena nasihat yang kita sampaikan adalah perintah Allah dan akan mendapatkan apresiasi di sisi-Nya.
Dalam hal ibadah, beliau menekankan pentingnya qira’atul Qur’an:
Dekatkanlah diri dengan Al-Qur’an.
Biasakan membaca 1 juz per hari. Jika belum mampu, setengah juz. Jika belum mampu juga, seperempat juz sesuai kemampuan.
Sebagaimana firman Allah:
“Fattaqullāha mastatha‘tum”
“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.”
(QS. At-Taghabun: 16)
Istiqomah adalah kunci.
“Sesungguhnya tidak ada yang lebih hebat selain membaca Kalamullah.”
Pesan beliau sangat tegas:
Jangan berhenti membaca Al-Qur’an.
Jangan hanya semangat saat Ramadhan, tetapi teruslah istiqomah, baik di masjid maupun di rumah.
“Harga mati kita adalah Kalamullah sampai titik penghabisan.”
Amalan yang paling dicintai Allah adalah kedekatan dengan Al-Qur’an. Imam Nawawi pun menegaskan bahwa tidak ada dzikir yang lebih utama selain membaca Al-Qur’an.
Beberapa amalan yang dianjurkan untuk dijaga secara istiqomah antara lain:
- Membaca Surah Al-Mulk setiap malam
- Membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing 3 kali pada pagi dan sore hari
- Membaca Surah Al-Kahfi
- Memperbanyak dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah
Walaupun terlihat sederhana, amalan ini memiliki nilai besar jika dijaga dengan istiqomah.
Sebagai penutup, beliau berpesan agar jamaah membiasakan qiyamul lail dan tidak meninggalkan shalat witir.
Pengajian ini menjadi pengingat bahwa semangat Ramadhan tidak boleh berhenti. Justru setelah Ramadhan, iman harus terus dijaga, ditingkatkan, dan diwujudkan dalam amal nyata.
Mari terus menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an, memperbaiki amal, dan saling menasihati dalam kebaikan demi meraih husnul khotimah.


