Hangatnya Teras, Hangatnya Iman: Obrolan Jamaah Sebelum Kajian Dimulai
Suasana hangat sudah terasa bahkan sebelum kajian dimulai. Di teras rumah Bapak Yaisul Havid, Ketua RT 39 RW 11 Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, para jamaah Majelis Husnul Khotimah tampak duduk santai, saling bercakap, melepas rindu setelah sekian waktu tidak berjumpa.
Angin malam bada Isya berhembus pelan, menemani obrolan ringan yang ternyata sarat makna. Tawa kecil sesekali pecah, namun di sela-selanya terselip nasihat dan pengingat iman. Seakan-akan, pertemuan ini bukan sekadar duduk bersama, tetapi juga pelukan kerinduan antar sesama jamaah.
Dari obrolan santai itu, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan sederhana namun mengena,
“Sudah puasa Syawal belum?”
Pertanyaan itu langsung memantik diskusi kecil. Ada yang menjawab dengan jujur, ada yang tersenyum, ada pula yang berbagi pengalaman.
“Puasa Syawal itu kelihatannya cuma 6 hari, singkat,” ujar salah satu jamaah,
“tapi kalau tidak dicicil, tahu-tahu sudah lewat saja bulan Syawal.”
Yang lain menimpali, mengingatkan bahwa puasa Syawal bisa dilakukan berturut-turut maupun tidak, yang penting tetap dikerjakan. Obrolan pun semakin hidup.
Hingga akhirnya, suasana makin cair saat salah satu jamaah berseloroh,
“Kalau lagi puasa Syawal, terus silaturahmi ke rumah saudara, ditawari makan… ya lebih utama dimakan, daripada tidak menghargai tuan rumah.”
Gelak tawa pun pecah, namun tetap menyimpan hikmah: bahwa dalam beribadah pun ada nilai adab dan kebijaksanaan.
Obrolan di teras itu menjadi bukti bahwa majelis tidak hanya hidup saat kajian berlangsung, tetapi juga dari interaksi hangat antar jamaah. Dari percakapan sederhana, tumbuh saling menguatkan dalam iman.
Malam itu, harapan pun mengalir dalam hati masing-masing. Bahwa kajian yang akan segera dimulai di kediaman Bapak Yaisul Havid, dengan tausiyah dari Ustadz Drs. Taufiq Ahmad, akan menjadi “charger” kembali bagi keimanan yang sempat menurun pasca Ramadhan.
Sebuah pemanasan ruhani, agar semangat ibadah tidak padam, dan hati kembali terikat kuat dengan Allah.
Dari teras yang sederhana, lahir obrolan penuh makna. Dari kebersamaan, tumbuh kembali semangat menjaga iman setelah Ramadhan.
