Subuh yang Menenangkan: Rahmat Allah di Tengah Kegelisahan Dunia
Rilis Ringkasan Kultum Subuh
Masjid Al Ihsan Suryodiningratan
Penulis: Fatkur Rohman
Marbot Masjid Al Ihsan Suryodiningratan
Suasana Subuh di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan terasa begitu khusyuk. Udara pagi yang sejuk menyelimuti jamaah yang berdiri rapat dalam shaf, mengawali hari dengan sholat berjamaah yang diimami oleh Muh. Alfian Muzakki, Amd, RO, S.Psi., MBA.
Selepas membaca Al-Fatihah, beliau melantunkan Surah Ar-Rahman dengan suara yang menyentuh hati. Ayat demi ayat mengingatkan bahwa bumi ini suatu saat akan binasa. Tidak ada yang kekal, kecuali Rabb semesta alam. Semua yang kita lihat, rasakan, dan banggakan hari ini pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Dalam kultumnya, beliau menyinggung situasi dunia, khususnya ketegangan di kawasan Timur Tengah seperti Israel, Amerika, dan Iran. Berbagai konflik dan balasan yang terjadi seringkali membuat hati gelisah. Namun beliau menegaskan, sebagai umat beriman, kita tidak perlu larut dan sibuk dalam kegaduhan yang berada di luar jangkauan kita.
“Kita syukuri,” pesannya, “bahwa hari ini kita masih bisa berpuasa di bulan Ramadhan dengan tenang di Indonesia.”
Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kasih sayang-Nya begitu luas, terutama kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Di bulan Ramadhan ini, rahmat dan ampunan Allah terbuka lebar.
Beliau juga mengingatkan tentang kemudahan dalam syariat puasa. Jika seseorang sakit, lalu tidak mampu berpuasa, maka itu bukanlah aib. Islam memberikan rukhsah (keringanan). Misalnya, seseorang yang mengalami vertigo atau kondisi kesehatan tertentu diperbolehkan tidak berpuasa.
Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 184, Allah memberikan kemudahan bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan untuk mengganti puasanya di hari lain. Begitu pula dalam Surah Al-Hajj 78 ditegaskan bahwa Allah tidak menjadikan agama ini sebagai sesuatu yang menyulitkan.
Dalam penyampaian yang hangat, beliau menggambarkan sebuah cerita sederhana: seperti seorang ibu yang menyuruh anaknya makan karena khawatir anaknya sakit. Sang ibu ingin kemudahan dan keselamatan bagi anaknya. Demikian pula Allah bahkan lebih dari itu menginginkan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya.
Islam bukan agama yang mempersulit. Justru Allah menghendaki kemudahan, bukan kesulitan.
Subuh itu pun ditutup dengan kesadaran yang mendalam: di tengah dunia yang tidak pasti, rahmat Allah selalu pasti. Di tengah konflik yang mengkhawatirkan, kasih sayang Allah tetap menenangkan. Dan di bulan Ramadhan ini, kita diajak untuk semakin bersyukur, semakin yakin, dan semakin dekat kepada-Nya.
