Membaca Al-Qur’an dengan Hati
Di hari Ahad yang dingin, ketika Subuh masih dalam pelukan kabut di sekitar Masjid Al Ihsan Suryodiningratan, setelah shalat Subuh berjamaah yang pada rakaatnya dibacakan Surah Ar-Rahman Ustadz Drs. H. Daelami menyampaikan pesan penting dalam kultum Subuh tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim membaca Al-Qur’an.
Beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca dengan lisan, tetapi harus dibaca dengan hati.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.”
(QS. Al-Anfal: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa tanda iman adalah hati yang bergetar ketika mendengar ayat-ayat Allah.
Ketika kita membaca surah seperti Az-Zalzalah atau Al-Qari’ah, seharusnya muncul rasa takut dan kesadaran dalam diri. Ayat-ayat itu mengingatkan tentang hari kiamat, tentang balasan amal, dan tentang azab neraka. Rasa takut itu bukan untuk membuat kita putus asa, tetapi agar kita menjauh dari jalan yang menjerumuskan kita menjadi ahli neraka (ahlun-nar).
Karena itu, Ustadz Daelami mengajak jamaah untuk memperbanyak istighfar dan mendekatkan diri kepada Allah.
Beliau juga menyinggung kenyataan yang patut kita renungkan. Di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim Dari total populasi Indonesia yang lebih dari 270 juta jiwa, sekitar 240 hingga 242 juta jiwa penduduk adalah pemeluk agama Islam, namun dari jumlah tersebut berapa yang mengamalkan Islam dengan benar, dapat kita saksikan dari berbagai kemaksiatan masih banyak terjadi: perjudian, minuman keras, hingga pergaulan bebas. Hal ini menjadi pertanyaan bagi kita semua:
Apakah kita sudah benar-benar dekat dengan Al-Qur’an?
Padahal Allah telah memberikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Namun sering kali kita membacanya tanpa merenungi maknanya.
Allah berfirman:
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti engkau akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah.”
(QS. Al-Hasyr: 21)
Jika gunung saja bisa hancur karena takut kepada Allah, maka jangan sampai hati manusia justru lebih keras daripada batu karena tidak tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an.
Karena itu, Ustadz Daelami mengajak jamaah untuk mulai membaca Al-Qur’an dengan pemahaman dan perenungan. Tidak harus banyak. Bahkan membaca dua atau tiga ayat saja tetapi dipahami dan direnungi, itu sudah sangat baik.
Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak hikmah: kisah para nabi, pelajaran hidup, serta janji Allah bagi orang-orang yang beriman. Ketika ayat-ayat itu direnungkan, hati akan menjadi lebih lembut dan iman semakin kuat.
Membaca Al-Qur’an juga membawa pahala yang besar. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi orang-orang yang membacanya.
Sebagaimana nasihat dari Ali bin Abi Thalib, Pesan yang sering dikutip berbunyi :
“Barang siapa membaca Al-Qur’an dalam keadaan berwudhu, maka baginya 25 atau 30 kebaikan pada setiap huruf. Dan jika ia membacanya tanpa wudhu, maka baginya 10 kebaikan pada setiap huruf.”
Nabi Muhammad ﷺ bersabda :
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.”
(HR. Tirmidzi)
Maka marilah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidup kita. Membacanya dengan penuh cinta, merenungi maknanya, dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga dengan kedekatan kita kepada Al-Qur’an, Allah melembutkan hati kita, menambah keimanan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
