Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Kajian

Dzikir Adalah Benteng: Siapa yang Paling Ditakuti Jin?

Hikmah Kultum Subuh Masjid Al Ihsan Suryodiningratan – 9 Maret 2026
Fajar baru saja menyingsing di langit Suryodiningratan. Udara subuh terasa sejuk, dan lantunan dzikir jamaah masih terdengar lirih di dalam Masjid Al Ihsan. Setelah shalat Subuh berjamaah, para jamaah duduk rapi mendengarkan kultum yang disampaikan oleh Ustadz Abidin Sungkono.
Dengan gaya penyampaian yang tenang namun penuh makna, beliau mengajak jamaah merenungkan sebuah kisah hikmah tentang bagaimana sebenarnya setan dan jin memandang manusia.
Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu. Salah seorang sahabat, di antaranya Abu Hurairah, diminta membuka pintu tersebut.
Ketika pintu dibuka, tampak sosok yang berbeda dari manusia biasa. Ia kemudian mengaku sebagai jin yang datang menemui Rasulullah ﷺ. Dalam dialog yang terjadi, Rasulullah ﷺ menanyakan sebuah pertanyaan yang sangat penting:
“Siapakah musuh terbesarmu?”
Jin itu menjawab dengan jujur:
“Musuh kami yang paling berat adalah orang-orang yang beriman dan selalu berdzikir kepada Allah.”
Jawaban itu menjadi renungan mendalam bagi jamaah. Ternyata kekuatan seorang mukmin tidak terletak pada fisiknya, hartanya, atau kedudukannya. Kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya yang selalu terhubung dengan Allah.
Benteng yang Ditakuti Setan
Dari kisah hikmah tersebut, Ustadz Abidin Sungkono mengajak jamaah mengambil beberapa pelajaran penting yang dapat menjadi benteng dari godaan setan.
Pertama, memperbanyak dzikir dan istighfar.
Lisan yang selalu mengingat Allah membuat hati menjadi hidup. Dzikir adalah cahaya bagi hati dan sekaligus perisai yang melindungi manusia dari bisikan setan.
Kedua, menjaga keikhlasan dalam beramal.
Orang yang tulus beribadah karena Allah tidak mudah digoyahkan oleh godaan dunia. Keikhlasan membuat amal menjadi kuat dan tidak mudah dipalingkan.
Ketiga, memiliki akhlak yang rendah hati dan penuh kasih sayang.
Orang yang ramah, lembut, dan menyayangi sesama manusia akan dijauhkan dari sifat-sifat yang disukai setan seperti kesombongan dan kebencian.
Keempat, menjaga shalat tepat waktu.
Shalat adalah tanda kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Orang yang disiplin menjaga shalat di awal waktu menunjukkan kesungguhan imannya.
Sebaliknya, kebiasaan menunda-nunda shalat tanpa alasan adalah bentuk kelalaian yang sangat berbahaya. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya:
“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–5)
Pintu yang Disukai Setan
Dalam penutupnya, Ustadz Abidin Sungkono juga mengingatkan bahwa ada beberapa sifat yang justru menjadi pintu masuk bagi setan untuk menggoda manusia, di antaranya:
sifat bakhil dan enggan berbagi
kesombongan
iri dan dengki kepada sesama
serta kebiasaan menunda-nunda shalat
Sifat-sifat tersebut perlahan dapat mengeraskan hati dan menjauhkan manusia dari cahaya iman.
Renungan Subuh
Kultum subuh pagi itu ditutup dengan pesan yang sederhana namun sangat dalam:
Jika ingin kuat menghadapi godaan setan, maka kuatkan hubungan dengan Allah.
Perbanyak dzikir, jaga keikhlasan, perbaiki akhlak, dan jangan pernah menunda shalat.
Karena pada akhirnya, setan tidak takut pada manusia yang kuat secara fisik, tetapi takut pada manusia yang hatinya hidup karena selalu mengingat Allah.
Semoga hikmah subuh di Masjid Al Ihsan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri dan menjaga hati agar selalu dekat dengan Allah SWT.

Catatan Redaksi:
Kisah yang disampaikan dalam kultum ini merupakan kisah hikmah yang sering digunakan para dai sebagai sarana nasihat untuk menggugah hati dan menanamkan nilai-nilai keimanan. Dalam tradisi dakwah, penyampaian kisah seperti ini menjadi salah satu cara efektif untuk mengingatkan umat tentang pentingnya dzikir, keikhlasan, akhlak mulia, serta menjaga shalat tepat waktu. Terlepas dari bentuk kisahnya, pesan utama yang ingin disampaikan tetap sejalan dengan ajaran Islam, yaitu menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah dan memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Semoga hikmah yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pengingat dan motivasi bagi kita semua untuk terus meningkatkan kualitas iman dan amal.

Bagikan Kajian Ini