Kultum Tarawih: Waktu Ramadhan yang Terasa Begitu Cepat

Masjid Al Ihsan Suryodiningratan, Mantrijeron – Ahad, 8 Maret 2026
Pada kultum tarawih Ahad malam (8 Maret 2026) di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, setelah shalat Isya dan seluruh jamaah melaksanakan shalat sunnah ba’da Isya, Fatkur Rohman beranjak menuju mimbar untuk menyampaikan kultum Ramadhan.
Dengan salam hangat kepada para jamaah, beliau membuka kultum dengan sebuah pertanyaan ringan yang langsung mengundang respons jamaah.
“Bapak Ibu, ini sudah malam keberapa Ramadhan?”
Jamaah pun menjawab serentak,
“Malam ke-18!”
Sambil tersenyum beliau menanggapi,
“Ada yang merasa sudah malam ke-20, ada juga yang baru terasa malam ke-18.”
Kalimat sederhana tersebut menjadi pengantar renungan bahwa waktu berjalan begitu cepat. Ramadhan yang terasa baru saja dimulai, tanpa terasa kini sudah memasuki pertengahan bulan.
Waktu yang Terasa Singkat
Beliau kemudian menceritakan percakapan singkat sebelum iqamah dengan salah satu jamaah sepuh Masjid Al Ihsan, Bapak Parjono, yang berusia sekitar 82 tahun.
“Saya sempat bertanya kepada Pak Parjono, Pak, waktu itu terasa sangat singkat nggih?”
Pak Parjono menjawab dengan sederhana namun penuh makna:
“Iya… tiba-tiba sudah berusia, tiba-tiba sudah mau hari raya.”
Percakapan singkat tersebut menjadi pengingat bahwa hidup manusia juga seperti Ramadhan. Ketika dijalani terasa panjang, tetapi ketika menoleh ke belakang ternyata semuanya telah berlalu dengan sangat cepat.
Dokumentasi Kajian Ramadhan
Dalam kultum tersebut, beliau juga menyampaikan bahwa biasanya panitia Ramadhan melaporkan perkembangan infak Ramadhan kepada jamaah. Namun pada kesempatan ini, beliau ingin menyampaikan “laporan sederhana” dalam bentuk yang berbeda, yaitu ringkasan pesan para penceramah yang telah mengisi kajian di Masjid Al Ihsan.
Ringkasan tersebut ditulis dan dipublikasikan melalui website Masjid Al Ihsan Suryodiningratan yang dikelola bersama Pak Ferry, agar ilmu dan nasihat yang disampaikan para ustadz tidak hanya berhenti di mimbar, tetapi dapat dibaca kembali oleh jamaah kapan saja.
Sampai malam ini telah tercatat 12 tulisan kajian Ramadhan, di antaranya:
- Kajian tentang QS. Al-Ankabut ayat 56 sekaligus ajakan untuk mengaktifkan kembali kegiatan PPIS Suryodiningratan.
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=551
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=694
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=702
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=713
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=729
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=733
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=781
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=838
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=842
- https://masjid-alihsan.or.id/?p=850
- Catatan kajian lainnya yang terus diperbarui di website Masjid Al Ihsan.
Dengan adanya dokumentasi ini, diharapkan ilmu yang disampaikan para penceramah tidak hilang begitu saja, tetapi menjadi arsip dakwah dan sumber pembelajaran bagi jamaah serta generasi berikutnya.
Bekal Pulang Kampung ke Akhirat
Dalam bagian akhir kultum, beliau menyampaikan kisah ringan setelah shalat. Saat hendak pulang, beliau sempat berbincang dengan jamaah lain, Pak Harjono, yang bertanya dengan nada bercanda:
“Mas Fatkur, bawa bekal apa itu kok kelihatannya besar sekali?”
Beliau menjawab,
“Iya Pak, tadi cari oleh-oleh buat bekal pulang kampung.”
Percakapan sederhana itu kemudian dijadikan bahan renungan bagi jamaah.
Sebagaimana manusia yang pulang kampung membawa oleh-oleh, kita semua sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang kampung menuju akhirat.
Sebagaimana manusia yang pulang kampung membawa oleh-oleh, kita semua sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang kampung menuju akhirat.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:
وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”
(QS. Yusuf: 109)
Jika di dunia kita masih diberi kesempatan untuk hidup, maka itu adalah kesempatan besar untuk memperbaiki diri dan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.
Sebab berbeda dengan pulang kampung di dunia yang bisa kembali lagi ke tempat asal, pulang ke kampung akhirat adalah perjalanan yang tidak kembali. Di sanalah manusia akan berkumpul kembali—seperti sebuah reuni besar seluruh manusia—untuk selamanya.
Bagi orang-orang yang bertakwa, pertemuan itu adalah pertemuan yang penuh kebahagiaan, menikmati tempat tinggal yang terbaik di kampung akhirat.
Penutup Renungan
Ramadhan yang berjalan begitu cepat hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk memaksimalkan sisa waktu yang ada dengan:
- memperbanyak amal,
- memperkuat ibadah,
- serta menebarkan kebaikan di tengah masyarakat.
Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk menyelesaikan Ramadhan dengan sebaik-baiknya, serta mempertemukan kita dengan malam kemuliaan Lailatul Qadar.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin
