Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Suryodiningratan RT 39 RW 11, MJ 787 Yogyakarta
087839473647 – 08562579078
masjid.alihsan.syd@gmail.com

Kajian

Ramadhan Bulan Kemuliaan Al-Qur’an

Kultum Tarawih oleh Kang Rois – PTQ Raudhatul Muta’alimin di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan
Suasana malam Ramadhan di Masjid Al Ihsan Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta terasa begitu khusyuk. Setelah rangkaian shalat Isya dan Tarawih, jamaah kembali duduk rapi menyimak kultum yang disampaikan oleh Kang Rois dari PTQ Raudhatul Muta’alimin. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan kemuliaan, terutama karena di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Ramadhan Bulan Diturunkannya Al-Qur’an
Kang Rois membuka kultum dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Artinya:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.”
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Di bulan inilah wahyu pertama kali diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ. Karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, maka bulan ini menjadi bulan yang sangat mulia.
Kemuliaan Karena Kedekatan dengan Al-Qur’an
Kang Rois menjelaskan bahwa sesuatu menjadi mulia karena hubungannya dengan Al-Qur’an. Nabi Muhammad ﷺ menjadi manusia paling mulia karena beliau menerima dan membawa Al-Qur’an sebagai wahyu.
Begitu pula dengan umat Islam. Siapa yang dekat dengan Al-Qur’an, maka Allah akan memuliakannya. Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dibaca, tetapi juga petunjuk hidup agar manusia tidak tersesat.
Jika kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, maka kita akan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Itulah sebabnya Al-Qur’an disebut sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia.
Perumpamaan Sederhana tentang Kemuliaan
Untuk memudahkan jamaah memahami makna kemuliaan Al-Qur’an, Kang Rois memberikan perumpamaan sederhana.
Selembar kertas kosong pada dasarnya tidak memiliki nilai khusus. Namun ketika di atasnya dituliskan “Bismillahirrahmanirrahim”, maka kertas itu tiba-tiba menjadi mulia. Kita tidak akan menaruhnya sembarangan, bahkan kita akan menempatkannya di tempat yang baik.
Begitu pula dengan Al-Qur’an. Kita memuliakannya dengan menempatkannya di tempat yang bersih dan tinggi, tidak meletakkannya di sembarang tempat. Hal ini menunjukkan penghormatan kita kepada kalam Allah.
Namun kemuliaan yang sebenarnya bukan hanya pada tempatnya, tetapi ketika Al-Qur’an juga kita tempatkan dalam kehidupan kita. Jika hidup kita dekat dengan Al-Qur’an, maka Allah akan memuliakan kehidupan kita.
Keutamaan Orang yang Membaca Al-Qur’an
Kang Rois juga mengingatkan sebuah hadis Rasulullah ﷺ tentang perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an:
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujah: aromanya harum dan rasanya enak.
Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma: tidak beraroma tetapi rasanya manis.
Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti bunga raihanah: aromanya harum tetapi rasanya pahit.
Sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzhalah: tidak beraroma dan rasanya pahit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa Al-Qur’an memberi keindahan pada diri seorang mukmin, baik dari segi batin maupun perilakunya.
Ramadhan Momentum Kembali ke Al-Qur’an
Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an. Di bulan inilah umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca, mentadabburi, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Jika kita istiqomah membaca Al-Qur’an, hati kita akan menjadi lebih tenang, hidup kita lebih terarah, dan Allah akan mengangkat derajat kita.
Harapan dan Doa
Di akhir kultum, Kang Rois mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik awal memperbaiki kedekatan dengan Al-Qur’an.
Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk istiqomah membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga sepanjang kehidupan kita.
Dengan begitu, kita berharap termasuk orang-orang yang dimuliakan Allah karena kedekatannya dengan kitab suci-Nya.

Bagikan Kajian Ini